Salah satu solusi penting yang harus diperhatikan pemerintahan dalam merecovery
ekonomi Indonesia adalah penerapan ekonomi syari’ah. Ekonomi syari’ah
memiliki komitmen yang kuat pada pengentasan kemiskinan, penegakan
keadilan pertumbuhan ekonomi, penghapusan riba, dan pelarangan spekulasi
mata uang sehingga menciptakan stabilitas perekonomian.
Ekonomi
syari’ah yang menekankan keadilan, mengajarkan konsep yang unggul dalam
menghadapi gejolak moneter dibanding sistem konvensional. Fakta ini
telah diakui oleh banyak pakar ekonomi global, seperti Rodney
Shakespeare (United Kingdom), Volker Nienhaus (Jerman), dsb.
Ke
depan pemerintah perlu memberikan perhatian besar kepada sistem ekonomi
Islam yang telah terbukti ampuh dan lebih resisten di masa krisis.
Sistem ekonomi Islam yang diwakili lembaga perbankan syari’ah telah
menunjukkan ketangguhannya bisa bertahan karena ia menggunakan sistemi
hasil sehingga tidak mengalami negative spread sebagaimana bank-bank konvensional. Bahkan perbankan syariah semakin berkembang di masa-masa yang sangat sulit tersebut.
Sementara
bank-bank raksasa mengalami keterpurukan hebat yang berakhir pada
likuidasi, sebagian bank konvensional lainnya terpaksa direkap oleh
pemerintah dalam jumlah besar Rp 650 triliun. Setiap tahun APBN kita dikuras
lagi oleh keperluan membayar bunga obligasi rekap tersebut. Dana APBN
yang seharusnya diutamakan untuk pengentasan kemiskinan rakyat, tetapi
justru digunakan untuk membantu bank-bank konvensional. Inilah faktanya,
kalau kita masih mempertahakan sistem ekonomi kapitalisme yang ribawi.
Selama ini, sistem
ekonomi dan keuangan syari’ah kurang mendapat tempat yang
memungkinkannya untuk berkembang. Ekonomi Islam belum menjadi perhatian
pemerintah. Sistem ini mempunyai banyak keunggulan untuk diterapkan,
Ekonomi Islam bagaikan pohon tumbuhan yang bagus dan potensial, tapi
dibiarkan saja, tidak dipupuk dan disiram. Akibatnya, pertumbuhannya
sangat lambat, karena kurang mendapat dukungan penuh dari pemerintah dan
pihak-pihak yang berkompeten, seperti Menteri Keuangan, Menteri
Perdagangan dan Industri, BAPENAS, DPR dan Menteri yang terkait lainnya.
Keberhasilan Malaysia mengembangkan ekonomi Islam secara signifikan dan menjadi teladan dunia internasional, adalah disebabkan karena
kebijakan Mahathir yang secara serius mengembangkan ekonomi Islam.
Mereka tampil sebagai pelopor kebangkitan ekonomi Islam, dengan
kebijakan yang sungguh-sungguh membangun kekuatan ekonomi
berdasarkan prinsip syari’ah. Indonesia yang jauh lebih dulu merdeka dan
menentukan nasibnya sendiri, kini tertinggal jauh dari Malaysia.
Kebijakan-kebijakan Mahathir dan juga Anwar Ibrahim ketika itu dengan sistem syari’ah, telah mampu mengangkat ekonomi Malaysia setara dengan Singapura. Tanpa kebijakan mereka, tentu
tidak mungkin ekonomi Islam terangkat seperti sekarang, tanpa kebijakan
mereka tidak mungkin terjadi perubahan pendapatan masyarakat Islam
secara signifikan. Mereka bukan saja berhasil membangun perbankan,
asuransi, pasar modal, tabungan haji dan lembaga keuagan lainnya secara sistem syari’ah, tetapi juga telah mampu membangun peradaban ekonomi baik mikro maupun makro dengan didasari prinsip nilai-nilai Islami.
Aplikasi
ekonomi Islam bukanlah untuk kepentingan ummat Islam saja. Penilaian
sektarianisme bagi penerapan ekonomi Islam seperti itu sangat keliru,
sebab ekonomi Islam yang konsen pada penegakan prinsip keadilan dan membawa rahmat untuk semua orang tidak diperuntukkan bagi ummat Islam saja, dan karena itu ekonomi Islam bersifat inklusif.
Malaysia sendiri juga bisa mengembangkan Ekonomi syariah apalagi indonesia yang kaya dengan sumber daya manusianya , saya sendiri berharap bahwa garut adalah salah satu pelopor ekonomi syariah terbesar dan menjadi pusat sebagai perkembangan ekonomi syariah , tentu itu semua perlu perjuangan yang sangat besar , maka kami mengajak untuk teman-teman semua untuk sama msama berjuang untuk mengembankan ekonomi syariah di Garut khususnya .
0 comments: